//
you're reading...
Artikel Bahasa Indonesia

Pendekatan Psikoanalis Sastra

Untuk Lebih lengkapnya, bisa di baca n klik  blogger ini Ilmuhamster.blogspot.com
Hubungan antara psikologi dengan sastra sebenarnya telah lama ada, semenjak usia ilmu itu sendiri. Akan tetapi penggunaan psikologi sebagai sebuah pendekatan dalam penelitian sastra belum lama dilakukan. Menurut Robert Downs ( 1961: 1949 ) dalam Abdurrahman, (2003 : 1), bahwa psikologi itu sendiri bekerja pada suatu wilayah yang gelap, mistik dan paling peka terhadap bukti-bukti ilmiah. Dan wilayah yang gelap itu memang ada pada manusia, dari wilayah yang gelap itulah kemudian muncul perilaku serta aktifitas yang beragam, termasuk perilaku baik, buruk, kreatif, bersastra dan lain-lain.
Menurut Harjana ( 1991: 60) pendekatan psikologi sastra dapat diartikan sebagai suatu cara analisis berdasarkan sudut pandang psikologi dan bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia yang merupakan pancaran dalam menghayati dan mensikapi kehidupan. Disini fungsi psikologi itu sendiri adalah melakukan penjelajahan kedalam batin jiwa yang dilakukan terhadap tokoh-tokoh yang terdapat dalam karya sastra dan untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk-beluk tindakan manusia dan reponnya terhadap tindakan lainnya.
Menurut Wellek dan Warren
(1993: 81-93), psikologi sastra memasuki bidang kritik sasra lewat beberapa
jalan, antara lain:
  1. Pembahasan tentang proses penciptaan sastra.
  2. Pembahasan psikologi terhadap pengarangnya (baik sebagai suatu tipe maupun sebagai
    seorang peneliti).
  3. Pembicaraan tentang ajaran dan kaidah psikologi yang dapat ditimba dari karya sastra.
  4. Pengaruh karya sastra terhadap pembacanya.
Dalam psikologi sastra, ada beberapa tokoh psikologi terkemuka, seperti
Sigmund freud, Carl Gustav Jung dan Mortimer Adler yang telah memberikan
inspirasi tentang misteri tingkah laku manusia melalui teori-teori psikologi.
Namun Freud-lah yang paling banyak memberi sumbangan pemikiran dalam psikologi sastra, dia secara langsung berbicara tentang proses penciptaan seni sebagai
akibat tekanan dan timbunan masalah di alam bawah sadar yang kemudian
dituangkan kedalam bentuk penciptaan karya seni. Teori pendekatan psikologi
sastra yang dikembangkan oleh Freud ini dikenal dengan nama Psikoanalisis.
 1. Sigmund Freud
Dalam konsepnya, Freud bertolak dari psikologi umum, yaitu dia menyatakan
bahwa dalam diri manusia ada tiga bagian, yaitu id, ego dan super-ego.
Jika ketiganya berkerja secara wajar dan seimbang, maka manusia akan
memperlihatkan watak yang wajar pula. Namun jika ketiga unsur tersebut tidak
bekerja secara seimbang, dan salah satunya lebih mendominasi, maka akan
terjadilah peperangan dalam batin atau jiwa manusia, dengan gejala-gejala resah,
gelisah, tertekan dan neurosis yang menghendaki adanya penyaluran.
Dalam penggambaannya tentang pengarang dalam mencipta karya sastra, Freud
mengatakan bahwa pengarang tersebut diserang penyakit jiwa yang dinamakan
neurosis bahkan bisa mencapai tahap psikosis, seperti sakit syaraf dan mental
yang membuatnya berada dalam kondisi yang sangat tertekan, keluh kesah trsebut
mengakibatkan munculny aide dan gagasan yang menggelora yang menghendakinya
agar disublimasikan dalam bentuk karya sastra.
Selanjutnya, dalam bukunya ‘Tafsir Mimpi ‘, Freud mengungkapkan salah
satu metode  menafsirkan teks sastra. Freud
berpendapat bahwa sastra adalah merupakan bagian dari mimpi. Jadi analisa
yang diterapkan dalam sastra adalah seperti menganalisa orang yang sakit
melalui mimpi. Maka dengan demikian analisa-analisa tersebut meliputi (Rahmani,
2004: 106):
1. Taksif, yaitu adanya unsur seperti seseorang, gambar atau ucapan dalam mimpi.
2. Izahah, yaitu merupakan suatu rangkaian yang berhubungan dengan inti.. ini suatu perasaan yang terurai dari bentuk aslinya dan berubah menjadi bentuk lain yang tidak ada hubungannya dan mudah digambarkan.
3. Menerima bentuk lain, mudah dibentuk, jadi berbagai ide yang tidak disadari, bisa berubah menjadi bentuk-bentuk tertentu. Karena pada dasarnya mimpi merupakan produk visual yang dianggap oleh si pemimpi sebagai sebuah peristiwa.
4. Penafsiran, yaitu menjelaskan makna yang terkandung pada suatu materi.
Pandangan Freud tersebut ditafsirkan oleh Dr. Ernest Jones dengan tiga tujuan, yaitu:
  1. Penafsiran  langkah-langkah proses seni.
  2. Tujuan-tujuan nir-sadar para seniman.
  3. Dorongan-dorongan pribadi yang melahirkan imajinasi.

Untuk Lebih lengkapnya, bisa di baca n klik  blogger ini Ilmuhamster.blogspot.com

 

About these ads

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: