//
you're reading...
Paper

AGAMA HINDU DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (TUGAS PENDIDIKAN AGAMA)

AGAMA HINDU DAN PEMBANGUNAN NASIONAL

(TUGAS PENDIDIKAN AGAMA)

NAMA KELOMPOK:

 

 

Untuk Lebih lengkapnya, bisa di baca n klik  blogger ini Ilmuhamster.blogspot.com

 

 

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(IKIP) PGRI BALI

2009/2010

KATA PENGANTAR

 

Atas asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan kami menyusun tugas ini adalah untuk memenuhi kebutuhan Mahasiswa pada Fakultas Bahasa dan Sastra Daerah. Selain itu juga bertujuan sebagai pelengkap dan penunjang proses belajar mengajar untuk mata kuliah Pendidikan Agama.

Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna, mengingat keterbatasan kami dalam hal pengetahuan, pengalaman dan kemampuan kami. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk kesempurnaan tugas ini. Semoga tugas ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua.

Penulis

DAFTAR ISI

 

BAB I      PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang………………………………………………………………………………

1.2         Rumusan Masalah…………………………………………………………………………..

1.3         Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………….

1.4         Manfaat………………………………………………………………………………………..

1.5         Hipotesa………………………………………………………………………………………..

BAB II    PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Dharma Agama………………………………………………………………

2.2     Dharma Agama Menurut Hindu……………………………………………………….

2.3     Pengertian Dharma Negara………………………………………………………………

2.4     Hubungan Negara Dengan Warga Negara (Dharma Negara)……………….

2.5     Dharma Agama dan Dharma Negara Dalam Realisasi Kehidupan Masyarakat Bali

2.6     Tantangan Dharma Agama Dan Dharma Negara………………………………..

2.7     Pengertian Tri Hita Karana………………………………………………………………

2.8     Unsur-unsur Tri Hita Karana……………………………………………………………

2.9     Penerapan Tri Hita Karana………………………………………………………………

2.10   Penjabaran Tri Hita Karana Dalam Kehidupan Sehari-hari…………………..

BAB III   PENUTUP

3.1     Simpulan……………………………………………………………………………………..

3.2     Saran…………………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

Agama Hindu adalah agama yang rill mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Tujuan Agama Hindu yang ingin dicapai dan diwujudkan dalam kehidupan ini adalah berupa Moksa dan Jagathita melalui jalan dharma.

Pembangunan nasional yang telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia, mempunyai tujuan yang pasti sebagaimana disebutkan dengan satu kalimat yang oleh masyarakatnya telah secara umum pula diketahui yaitu untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.

Pengertian pembangunan adalah merupakan suatu proses menciptakan diri yang kurang baik, dan manusia adalah makhluk Tuhan yang mampu untuk itu sebab mempunyai budi daya yang tinggi. Seutuhnya yang dimaksudkan adalah mencakup lahir dan batin. Pembangunan lahir adalah pembangunan pisiknya menjadi sehat dan kuat melalui berbagai bidang pembangunan yang telah dicanangkan tahap demi tahap baik melalui pembangunan mentalnya menjadi sadar dan bertanggung jawab sebagai manusia makhluk tertinggi, semurna dan mampu menjadi subyek dan obyek dalam kehidupannya untuk membangun bangsanya.

Bila dikaji secara mendalam hakekat dan tujuan agama Hindu dengan tujuan pembangunan nasional adalah selaras, sama dan sesuai yaitu sama-sama ingin mewujudkan keseimbangan dalam lahir dan batinnya, sebab subyeknya sama yaitu manusia dan obyeknya pun sama yaitu keseimbangan dalam lahir dan batin manusia. Keseimbangan lahir dan batin manusia akan mampu menciptakan kesejahteraan dalam lahir dan kebahagiaan dalam batin adalah selaras dengan manusia seutuhnya yaitu tenang, aman dan damai dalam kehidupan lahir dan batin berdasarkan dharma agama dan dharma negaranya.

1.2              Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud Dharma Agama
  2. Apa yang dimaksud Sharma Negara
  3. Apa yang dimaksud Tri Hita Karana

1.3              Tujuan Penulisan

  1. Agar mahasiswa atau masyarakat mengetahui pengertian dan memahami Dharma Agama.
  2. Agar mahasiswa atau masyarakat mengetahui pengertian dan memahami Dharma Negara.
  3. Agar mahasiswa atau masyarakat mengetahui pengertian dan memahami Tri Hita Karana.

1.4              Manfaat

  1. Mahasiswa atau masyarakat mengetahui pengertian dan memahami Dharma Agama.
  2. Mahasiswa atau masyarakat mengetahui pengertian dan memahami Dharma Negara.
  3. Mahasiswa atau masyarakat mengetahui pengertian dan memahami Tri Hita Karana.

1.5              Hipotesa

  1. Menurut kelompok kami Dharma Agama yaitu kewajiban kita sebagai umat beragama.
  2. Menurut kelompok kami Dharma Negara yaitu kewajiban kita sebagai warga Negara khususnya Indonesia.
  3. Menurut kelompok kami Tri Hita Karana yaitu tiga hubungan yang harmonis untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Dharma Agama

Dharma Agama adalah merupakan tugas dan kewajiban yang patut dilaksanakan oleh setiap umat untuk mencapai tujuan agama atau bisa juga Dharma Agama adalah hukum, tugas, hak dan kewajiban setiap orang untuk tunduk dan patuh serta melaksanakan ajaran agama dan aspek-aspek yang dikandung dalam ajaran agama.

Apa-apa yang diajarkan oleh agamanya patut dapat dipedomani, dihayati dan lanjut diamalkan dalam kehidupannya sehari-hari. Dharma agamamerupakan santapan rohani yang patut didalami secara perlahan-lahan melalui proses berpikir mendekatkan diri kepada Tuhan/Hyang Widhi Wasa, karena sebenarnya pada diri kita masing-masing hal itu sudah ada dan tinggal menghubungkan untuk menjadi lebih dekat lagi. Sarana mendekatkan adalah dengan menuntung sang diri melalui ajarannya. Satelah tuntunnan diperoleh terangilah diri dengan tuntunnan itu agar dapat membedakan mana yang baik dan benar serta mana pula yang buruk dan salah dan patut dihindari.

Darma agama mengandung ajaran moral yang tinggi, patut untuk dihayati dengan memotivasi diri, sehingga kita dapat mempunyai daya dorong yang lebih meyakinkan, sehingga tak takut akan berbuat, karena apa yang diperbuat telah diyakini sesuai Dharma. Perbuatan didasarkan pada Dharma agama akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri secara dinamis, sehingga menyebabkan pemeluk agama, menjadi berani tidak takut ataupun gelisah dalam berlomba-lomba membuat kebaikan dengn tuhan.

2.2   Dharma Agama Menurut Hindu  

Dharma agama menurut hindu adalah perbuatan baik berdasarkan ajaran agama hindu yang dilakukan oleh agama hindu umat hindu untuk pengembangan dan kepentingan agama hindu. Semua pikiran , ucapan dan tindakan umat hindu harus berpedoman pada ajaran agama hindu yang dalam sastra-sasra hindu yaitu:

  1. Weda sruti sebagai ajaran inti
  2. Bhagawadgita
  3. Dharma sastra smerti dan sastra smuscaya
  4. Tatwa-tatwa(filsafat kerohanian)
  5. Ajaran-ajaran penuntun kesusilaan yang lain.

Sebagai warga Negara yang beragama hindu dan hidup dalam negara yang berdasarkan pancasila,dalam mengamalkan ajaran agama, tidak boleh berpandangan sempit. Umat hindu harus berpandangan luas sepandangan luas sehingga tidak menimbulkan fanatisme agama yang sempit. Umat Hindu di Indonesia harus benar-benar melaksanakan ajaran agama hindu sacara murni dan konsekuen, sehingga kehadiranya dalam masyarakat Indonesia akan sangat bermanfaat bagi bangsa dan Negara Indonesia.

Melalui pendekatan Dharma Agama sejauh mungkin diusahakan agar agama dapat mendorong berhasilnya pembangunan nasional dan untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional yaitu: masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Pasal 29 UUD 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, oleh karena itu Negara menjamin kebebasan (kemerdekaan) tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu.

Dalam menyukseskan pembangunan nasional, peranan segenap masyarakat termasuk umat agama Hindu sangat menentukan berhasilnya pembangunan nasional, dengan terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Pentingnya peranan agama, karena agama befungsi sebagai berikut:

  1. Faktor motivatif yaitu sebagai pendorong yang melandasi amal perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupan.
  2. Faktor integrative yaitu dengan keyakinan yang tebal dan penghayatan ajaran agama secara benar, akan dapat mempersatukan bangsa dan menghindarkan manusia dari situasi dan kepribadiannya yang dapat menimbulkan perpecahan.
  3. Faktor sublimatif yaitu melalui pemahaman ajaran agama, akan dapat merubah cara berfikir, berbicara dan bertindak sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu berfikir yang baik, berbicara yang baik dan berbuat yang baik.
  4. Faktor insfiratif yaitu melalui pemahaman ajaran agama dapat memberikan insfirasi kepada manusia bagi pengembangan seni dan budaya yang diwarnai oleh nilai-nilai ajaran agama.
  5. Faktor sumber nilai dan norma yaitu dengan pemahaman ajaran agama yang benar akan memberikan dasar bagi moral masyarakat yang merupakan sumber nilai dan norma yang mengilhami dan mengikat masyarakat.

Hal ini penting karena kelangsungan dan ketentraman masyarakat tidak hanya ditentukan oleh hukum saja, melainkan juga oleh ikatan moral yang dihayati masyarakat.

2.3   Pengertian Dharma Negara

Dharma Negara adalah meruapakan tugas dan kewajiban warga masyarakat terhadap tujuan negaranya yaitu dalam pembangunan yang telah dicanangkan atau bisa juga Dharma Negara adalah hukum, tugas, hak dan kewajiban setiap orang un tuk tunduk dan patuh kepada Negara, termasuk dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Disamping kita mengenal istilah Dharma sebagai hukum yang kemudian dimaksudkan adalah hukum yang mengatur hidup manusia, termasuk dalam pengertian, tugas/hak dan kewajiban umat manusia, maka hukum yang mengatur gerak alam semesta disebut Rta dan Tuhan Yang Maha Esa disebut Retavan, yaitu sebagai pendukung atau pengendali Rta.

Pembangunan Negara adalah pembangunan untuk kepentingan kita bersama, maka kepentingan umum berada diatas kepentingan pribadi atau golongan. Pembangunan Negara adalah merupakan pembangunan kebersamaan semua warga masyarakat yang mendiami Negara itu. Setiap orang yang tinggal dan hidup dalam satu Negara mempunyai tugas dan kewajiban untuk membangun Negaranya secara lahir dan batin sama-sama dengan warga masyarakatnya.

Negara adalah tempat kehidupan untuk dapat hidup secara tenang, aman dan damai secara lahir dan batin, maka oleh sebab itu setiap warga Negara patut berusaha menciptakannya. Semua aturan-aturan untuk kepentingan pembangunan Negara elah diatur dan di undangkan dengan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan. Sebagai warga Negara patut mematuhinya sebagai pengabdiannya berupa Dharma terhadap negaranya.

2.4   Hubungan Negara Dengan Warga Negara (Dharma Negara)

Hubungan antara Negara dengan warga Negara, dalam ajaran agama Hindu disebut dengan istilah Dharma Negara. Artinya bahwa umat Hindu di Indonesia melalui pendekatan Dharma Negara ikut berperan, mempertahankan, mengisi kemerdekaan serta memikul tanggung jawab masa depan bangsa dan bernegara Indonesia berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Agama Hindu adalah salah satu agama yang diakui keberadaannya di Indonesia disamping agama Islam, Katholik, Protestan, Dan Budha. Agama Hindu telah memberi warna tersendiri dalam pembangunan nasional dan khususnya dalam pembangunan umat beragama.

Pembangunan nasional baik yang telah, sedang dan yang akan dilaksanakan, tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat beragama termasuk masyarakat beragama Hindu. Dalam pembangunan lima tahun keenam, salah satu sasaran pembangunan adalah bidang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam masalah hubungan antara Negara dengan umat beragama Hindu selaku warga Negara, telah ada pedoman yang diatur dalam salah satu ajaran Catur Guru Bhakti yaitu:

  1. Bhakti kepada Guru Swadhyaya yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.
  2. Bhakti kepada Guru Pengajian yaitu guru disekolah.
  3. Bhakti kepada Guru Rupaka yaitu orang tua dirumah.
  4. Bhakti kepada guru wesesa yaitu Negara dan pemerintah.

Berdasarkan ajaran Catur Guru Bhakti, khususnya tentang Bhakti kepada Guru Wesesa maka umat Hindu Indonesia harus senantiasa melaksanakan hak dan kewajiban serta tanggung jawab untuk membela, mempertahankan, mengisi kemerdekaan, mengabdi dan berbakti kepada bangsa dan Negara Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Bagi umat Hindu Indonesia pelaksanaan Dharma Negara harus sejalan dengan amanat UUD 1945 antara lain:

  1. Setiap umat hindu harus menyadari bahwa hak dan kewajiban untuk membela Negara Indonesia adalah sesuai dengan pasal 30 ayat (1) UUD 1945.
  2. Setiap umat hindu Indonesia harus selalu ikut serta memajukan pendidikan nasional baik melalui pendidikan yang dilaksanakan pemerintah maupun suasta. Hal ini sesuai dengan pasal 31 UUD 1945.
  3. Setiap umat Hindu Indonesia harus selalu aktif memelihara dan mengembangkan kebudayaan nasional dan menerima budaya asing secara selektif yang bermanfaat bagi bangsa dan Negara Indonesia. Hal ini sesuai dengan pasal 32 UUD 1945.
  4. Setiap umat Hindu harus aktif ikut serta menanggulangi masalah fakir miski sesuai dengan kemampuannya. Masalah fakir miskin bukanlah semata-mata menjadi beban dan tanggung jawab pemerintah, melainkan merupakan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia termasuk umat Hindu. Hal ini sesuai dengan pasal 34 UUD 1945.
  5. Setiap umat Hindu harus selalu ikut aktif mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa serta memelihara instrument-instrument pemersatu bangsa seperti menghormati bendera nasional menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta menghayati dan mengamalkan pancasila. Hal ini sesuai dengan pasal 35-36 dan pembukaan UUD 1945.

2.5   Dharma Agama dan Dharma Negara Dalam Realisasi Kehidupan Masyarakat Bali

Masyarakat bali adalah masyarat religious , dimana cita-cita hidup dan kehidupannya untuk mencapai kerahayuan, dalam pengertian kesejahteraan jasmani(jagadhita), yang seimbang dengan kesejahteraan rohani(moksha).

Etika keagamaan hindu dalam masyarakat bali, yang merupakan rujukan prilaku bagi masyarakatnya, pada dirinya telah memancarkan untuk pelaksanaan Dharma Agama dan Dharma Negara itu sendiri. Etika keagamaan hindu dalam masyarakat bali, yang memancarkan rujukan untuk pelaksanaan Dharma Agama dan Dharma Negara, seperti :

1. Bagi masyarakat Bali, pemahaman dharma agama adalah menjalankan ajaran agama itu sendiri. Contohnya adalah Tri Hita Karana.tri Hita Karana bagi masyarakat bali adalah ajaran agama buat kehidupannya dan mengatur kehidupannya.

2.  Pemahaman dean penghayatan Dharma Negara bagi amsyarakat, adalah mentaati seluruh aturan hukum yang berlaku termasuk seluruh ketentuan hukum agama terhadap untuk menjaga ketertiban dan keselarasan hubunan social masyarakatnya.

3.  Bukti yang sangat kongkrit dari pelaksanaan Dharma Agama dan Dharma Negara dalam sejarah perjuangan kemerdekaan masyarakat Bali adalah: long march dari para pejuang kemerdekan ke Gunung Agung, yang pada hakikatnya mengandung makna, Tirtha Yatra dengan tujuan untuk nunas kerahayuan dalam konteks perjuangan bangsa merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

4.  Pelaksanaan Yadnya dalam masyarakat Bali, yang antara lain juga bertujuan dan bermakna: penyelarasan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia lainnya, serta manusia dan Tuhan.

5.  Sangat diyakini oleh masyarakat Bali, bahwa: ketaatan pada swadharma akan melahirkan kesadaran diri, disiplin personal dan kemudian disiplin social, dan tegaknya tata tertib social.

6.  Cita-cita kehidupan keagamaan dalam masyarakat Bali adalah terciptanya masyarakat yang Sadhu dalam artian: etika keagamaan ditegaskan dalam prilaku kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

2.6   Tantangan Dharma Agama dan Dharma Negara

Tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Bali dalam pengrealisasian Dharma Agama dan Dharma Negara di Zaman yang oleh banyak pihak disebut sebagai era globalisasi, secara garis besar adalah:

  1. Menyadari kepada masyarakat agar tetap berporos dan atau kembali kepada konsepsi swadharma kehidupan, sehingga tidak mudah terjebak untuk melakukan prilaku menyimpang dari etika kehidupan keagamaan.
  2. Masyarakat Bali harus meningkatkan kemampuan dirinya untuk mendidik diri sendiri, dalam pemahaman dan penghayatan Dharma Agama dan Dharma Negara untuk bertujuan kerahayuan, diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara bahkan alam semesta.
  3. Melalui konsepsi : utpati (penciptaan), Stiti (pelestarian) dan praline (peleburan), masyarakat Bali tidak hanya sadar, tetapi menjadi yakin bahwa phenomena perubahan dalam masyarakat adalah cirri alamiah diri manusia, alam dan masyarakat itu sendiri, sehingga selalu siap untuk menerima perubahan itu sendiri. Dengan demikian, hendakna masyarakat Bali selalu menyadari bahwa dinamika perubahan tidak menggerus masyarakatnya untuk keluar, menyimpang, melawan Dharma kehidupan.

2.7   Pengertian Tri Hita Karana

Tri Hita Karana berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagian dan “Karana” yang berarti penyebab. Dengan demikian Tri hita Karana berarti tiga penyebab kebahagian. Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 November 1966, pada waktu diselenggarakan konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berdasarkan kesadaran Umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakata sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana berkembangan, meluas dan memasyarakat.

Tiga penyebab kebahagiaan termaksud adalah adanya:

  1. Hubungan baik manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa
  2. Hubungan baik manusia dengan manusia lainnya
  3. Hubungan baik manusia dengan lingkungan

Berikut ini disampaikan penjelasan lebih jauh.

  1. Hubungan baik manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa

Manusia adalah ciptaan Tuhan, sedangkan Atma yang ad dalam diri manusia merupakan percikan sinar suci kebesaran Tuhan yang menyebabkan manusia dapat hidup. Dilihat dari segi ini sesungguhnya manusia itu berhutang nyawa terhadap Tuhan. Oleh karena itu umat Hindu wajib berterima kasih, berbhakti dan selalu sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa terima kasih dan sujud bhakti itu dapat dinyatakan dalam bentuk puja dan puji terhadap kebesaran Nya, yaitu:

Untuk Lebih lengkapnya, bisa di baca n klik  blogger ini Ilmuhamster.blogspot.com

 

About these ads

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: