//
you're reading...
Paper

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH PADA SISWA KELAS IXA SMP …………. TAHUN PELAJARAN 2009/2010

JUDUL PENELITIAN

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH PADA SISWA KELAS IXA SMP …………. TAHUN PELAJARAN 2009/2010

 

IDENTITAS PENELITI

Nama              : I Komang Cenik Antara

Nim                 : 0516011022

Jurusan            : Penjaskesrek

Fakultas          : Olahraga dan Kesehatan

  1. I.          PENDAHULUAN
  2. 1.        Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu masalah yang krusial yang sedang dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia seperti masalah kuantitas, masalah efektivitas, masalah efesiensi, dan masalah relevansi. Pada hakekatnya yang disebut pendidikan adalah pengaruh, bimbingan, arahan dari orang dewasa kepada anak yang belum dewasa agar menjadi dewasa, mandiri, dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang (Depdiknas, 2003). Pendidikan bukanlah sekadar pengajaran. Makin dasar jenjang sekolah, maka makin besar peran pendidikan. Pendidikan menanamkan hasrat ingin tahu, eksploratif, berpikir kreatif, bukan sekedar memori salah dan benar (Idris, 2007).

Pendidikan dasar menentukan mutu SDM bangsa secara keseluruhan. Penanaman nilai-nilai harus dimulai sejak pendidikan dasar, bukan sebagai materi pengajaran yang kaku, tapi sebagai falsafah pendidikan nasional itu sendiri. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah yang dihadapi dunia pendidikan, seperti peningkatan kualifikasi guru, perubahan dan perbaikan kurikulum, serta pengadaan sarana dan prasarana.

Dalam proses pembelajaran di sekolah, pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan secara formal. Pendidikan jasmani merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan secara keseluruhan yang diselenggarakan di setiap lembaga pendidikan. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang dalam pelaksanaannya memakai aktivitas jasmani sebagai wahana atau pengalaman belajar dan melalui pengalaman tersebut anak tumbuh dan berkembang untuk mencapai tujuan pendidikan.

Berdasarkan observasi awal khususnya dalam mengamati materi lompat jauh, dan wawancara dengan guru pendidikan jasmani di SMP …………. ditemukan bahwa masih terdapat permasalahan baik dalam aktivitas belajar siswa, maupun hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran pendidikan jasmani khususnya pada materi lompat jauh masih rendah yang mengakibatkan kreativitas siswa tidak berkembang dan berpengaruh pada hasil belajar lompat jauh siswa rendah pula. Hal ini terlihat dari sikap siswa yang cenderung pasif dan tidak ada motivasi untuk belajar di mana siswa lebih banyak terlihat diam memperhatikan gurunya dan tidak punya inisiatif sendiri untuk mencoba gerakan-gerakan yang diajarkan oleh gurunya. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi tidak efektif dan akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini diakibatkan oleh model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional yaiti guru hanya menggunakan metode ceramah di mana guru lebih banyak berperan dalam pembelajaran atau pembelajaran bersifat teacher center.

Untuk menumbuhkan sikap aktif, kreatif, dan inovatif dari siswa tidaklah mudah, dalam hal tersebut diperlukan seorang guru yang professional. Menurut Bafadal (2004) guru yang professional adalah guru yang memiliki visi yang tepat dan berbagai aksi inovatif. Guru dengan visi yang tepat berarti guru memiliki pandangan yang tepat tentang pembelajaran, yaitu (1) pembelajaran merupakan jantung dalam proses pendidikan, sehingga kualitas pendidikan terletak pada kualitas pembelajarannya, dan sama sekali bukan pada aksesoris sekolah; (2) pembelajaran tidak akan menjadi baik dengan sendirinya, melainkan melalui proses inovasi tertentu, sehingga guru dituntut melakukan berbagai pembaruan dalam hal pendekatan, metode, teknik, strategi, langkah-langkah, media pembelajaran, mengubah “status quo” agar bembelajaran menjadi lebih berkualitas; dan (3) harus dilaksanakan atas dasar pengabdian, sebagaimana pandangan bahwa pendidikan merupakan sebuah pengabdian. bukan sebagai sebuah proyek. Inovasi pembelajaran pada hakikatnya merupakan sesuatu yang baru mengenai pembelajaran, bisa berupa ide, program, layanan, metode, dan preses pembelajaran. Dengan demikian dalam preses pembelajaran Guru seharusnya lebih memposisikan diri sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran dan memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanggung jawab atas pembelajaran dirinya. Hal tersebut hendaknya dapat diwujudkan dalam setiap proses pembelajaran, termasuk dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani.

Berdasarkan masalah-masalah tersebut di atas, peneliti akan mencoba memberikan salah satu solusi yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Division) yang bertujuan untuk mengimplementasikan apa yang dilihat dan didengar dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani khususnya dalam pembelajaran lompat jauh.

Pada kelompok kooperatif tipe STAD dipandang sebagai salah satu model yang paling sederhana dan paling langsung, dimana siswa dibagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang. Anggota dari masing-masing kelompok sifatnya heterogen baik sifatnya, kemampuan akademik, jenis kelamin maupun dari suku/ras (Lie, 2004). Belajar kooperatif memberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan atau ide, bertanya, melakukan diskusi/sharing pendapat dengan anggota kelompoknya sehingga diharapkan mampu membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri di bawah bimbingan guru. Tugas dari masing-masing kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan membantu anggotanya untuk mencapai ketuntasan materi. Proses belajar belum selesai jika salah seorang dari anggota kelompoknya belum mencapai ketuntasan materi. Ketuntasan materi dalam seting belajar kooperatif terjadi jika dan hanya jika semua anggota kelompok berhasil dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Hal tersebut memberikan indikasi bahwa belajar dengan kelompok kooperatif merupakan suatu sistem gotong-royong untuk mencapai ketuntasan materi. Hal ini diperkuat oleh pendapat Slavin (1995) yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif berpengaruh positif terhadap perbaikan hubungan antar kelompok dan kepercayaan diri siswa, sehingga tumbuh motivasi dalam diri siswa untuk mengulangi kegiatan tersebut.

Lie (2004) berpendapat bahwa asumsi yang mendasari pendekatan pembelajaran secara individu adalah bahwa setiap siswa bisa belajar sendiri tanpa atau dengan sedikit bantuan dari pengajar. Asumsi lainnya menyatakan bahwa setiap siswa adalah unik dengan segala kebiasaan, kemampuan, minat, dan bakatnya yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu, setiap siswa perlu mendapat perhatian dan kesempatan khusus untuk mengambangkan potensinya semaksimal mungkin. Setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan harus memperjuangkan nasibnya sendiri. Tidak ada orang yang bisa membantu, dan sebaliknya tidak perlu merepotkan diri untuk membantu orang lain. Model seperti ini akan membuat siswa percaya sepenuhnya dengan kemampuannya sendiri, sehingga terkadang mereka akan sulit menerima pendapat orang lain dan sulit untuk melihat/mengoreksi kesalahan dirinya sendiri.

Berdasarkan uraian di atas peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam sebuah penelitian khususnya dalam materi pembelajaran lompat jauh.

  1. 2.        Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah aktivitas belajar lompat jauh siswa melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe STAD  pada siswa kelas IXA SMP …………. tahun pelajaran 2009/2010?
  2. Bagaimanakah hasil belajar lompat jauh melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas IXA SMP …………. tahun pelajaran 2009/2010?

 

  1. 3.        Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar lompat jauh siswa melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas IXA SMP …………. tahun pelajaran 2009/2010.
  2. Untuk mengetahui hasil belajar lompat jauh melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas IXA SMP …………. tahun pelajaran 2009/2010.
  1. 4.        Manfaat

Adapun manfaat yang diproleh dari penelitian ini adalah

  1. Bagi guru
  1. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan guru pendidikan jasmani tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran atletik khususnya dalam materi lompat jauh.
  2. Dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran pendidikan jasmani dalam menyusun strategi pembelajaran yang bertujuan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa khususnya dalam materi lompat jauh.
  3. Membantu siswa dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok dan gaya menggantung dengan model pembelajaran kooperatip tipe STAD, sehingga siswa dapat belajar secara lebih aktif lagi..
  4. Dapat menumbuhkan motivasi serta pengalaman belajar yang lebih bermakna, sehingga nantinya penggunaan suatu teknik atau gerakan akan meningkat.
  5. Penelitian ini melatih siswa untuk berpartisipasi dan berinteraksi secara aktif dalam proses pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran lompat jauh
  6.  Siswa dapat bertukar informasi tentang materi pelajaran secara lebih efektif.
  7. Dapat dijadikan model pembelajaran dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan jasmani.
  8. Sebagai model pembelajaran yang dapat berguna dalam mengembangkan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran lompat jauh.
  9. Dapat meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan khususnya pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi serta dapat memberikan wawasan tentang penbelajaran dalam rangka pelaksanaan KTSP yang sedang berlaku di SMP …………..
  10. Dapat memberikan pengalaman langsung sebagai calon guru olahraga dalam merancang model pembelajaran dengan pendekatan kooperatif.
  11. Peneliti dapat mengembangkan sikap ilmiah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
  12. Peneliti memiliki gambaran awal tentang bagaimana mengelola kelas agar siswa itu termotivasi dalam belajar.
  1. Bagi siswa
  1. Bagi sekolah
  1. Bagi peneliti
  1.   II.     KAJIAN PUSTAKA
  2. 1.        Belajar

Banyak definisi yang diberikan tentang belajar. Salah satunya menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi pengetahuan. Belajar juga merupakan suatu proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan (Suparno,1997). Proses tersebut antara lain bercirikan sebagai berikut.

a         Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.

b        Konstruksi arti itu adalah proses yang terus-menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.

c         Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu sendiri, suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.

d        Proses belajar sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disquilibrium) merupakan situasi yang baik untuk memacu belajar.

e         Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.

f         Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si pelajar: konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.

Dari paparan di atas, jelas bahwa bagi konstruktivisme, kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif di mana pelajar membangun sendiri pengetahuannya, dan bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Belajar merupakan suatu proses organik untuk menemukan sesuatu, bukan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Setiap pelajar mempunyai cara tersendiri untuk mengkonstruksikan pengetahuannya yang kadang sangat berbeda dengan teman-teman yang lain. Dalam kerangka ini, sangat penting bahwa pelajar dimungkinkan untuk mencoba bermacam-macam cara belajar yang cocok dan juga penting bahwa pengajar menciptakan bermacam-macam situasi yang membantu pelajar. Satu model belajar mengajar saja tidak akan membantu siswa.

Ketika pertama kali datang ke kelas, siswa sudah membawa makna tertentu tentang dunianya. Inilah pengetahuan dasar mereka untuk dapat mengembangkan pengetahuan yang baru. Mereka juga membawa perbedaan tingkat intelektual, personal, sosial, emosional, dan kultural. Latar belakang dan pengertian awal yang dibawa siswa tersebut sangat penting dimengerti oleh pengajar agar dapat membantu memajukan dan memperkembangkannya sesuai dengan pengetahuan yang lebih ilmiah.

Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Menurut prinsip konstruktivis, seorang pengajar berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Tekanan ada pada siswa yang belajar dan bukan pada disiplin ataupun guru yang mengajar. Fungsi mediator dan fasilitator (Suparno, 1997) dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sebagai berikut.

a         Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggungjawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian. Karena itu, jelas memberi ceramah bukanlah tugas utama seorang guru.

b        Menyediakan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan murid dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa, seperti dengan menyediakan pengalaman konflik yang menarik dan membuat siswa merasa tertantang.

c         Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan murid.

Agar kegiatan di atas dapat berjalan dengan optimal, diperlukan beberapa kegiatan yang perlu dikerjakan dan juga beberapa pemikiran yang perlu disadari oleh pengajar, yakni sebagai berikut.

a         Guru perlu lebih banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang sudah mereka ketahui dan pikirkan.

b        Tujuan dan apa yang akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar di kelas sebaiknya dibicarakan bersama sehingga siswa benar-benar ikut terlibat.

c         Guru perlu lebih mengerti pengalaman mana yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

d        Diperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap siswa bahwa mereka dapat belajar.

e         Guru perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran siswa, karena kadang siswa berfikir pengandaian yang tidak diterima oleh guru.

Dalam pembelajaran, pengajar perlu membiarkan murid menemukan cara yang paling menyenangkan dalam memecahkan suatu persoalan atau masalah. Sangat penting bahwa guru tidak mengajukan jawaban satu-satunya sebagai yang benar, terlebih dalam masalah atau persoalan yang berdasarkan suatu pengalaman. Guru perlu mengerti sifat kesalahan murid. Perkembangan intelektual dan matematis penuh dengan kesalahan dan kekeliruan. Ini adalah bagian dari konstruksi semua bidang yang tidak bisa dihindarkan. Guru perlu melihat kesalahan sebagai suatu sumber informasi tentang penalaran dan sifat skemata siswa.

  1. 2.    Pembelajaran dalam Pendidikan Jasmani

Menurut Aip Syarifuddin (1997) pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan individu secara organik, neuromuskuler, intlektual, dan emosional melalui aktivitas jasmani. Menurut Abdoelah (1996) pendidikan jasmani adalah sebuah matapelajaran akademik sama seperti matapelajaran matematika dan ilmu-ilmu sosial. Nixon dan Jewett (dalam  Abdoelah, 1996) mendefinisikan pendidikan jasmani sebagai suatu aspek dari proses pendidikan keseluruhan yang berkenaan dengan perkembangan dan penggunaan kemampuan gerak individu yang sukarela dan berguna serta berhubungan langsung dengan respon mental, emosional dan sosial. Agnes (dalam Abdoelah, 1996) yang dikutip oleh Bucher adalah bahwa tujuan pendidikan jasmani dapat diklasifikasikan dalam lima golongan, yaitu: a) perkembangan kesehatan, jasmani dan organ-organ tubuh, b) perkembangan mental-emosional, c) perkembangan otot syaraf (neuro-muscular) atau keterampilan jasmani, d) perkembangan sosial, dan e) perkembangan kecerdasan atau intelektual.

Jadi, guru pendidikan jasmani yang merencanakan dan melaksanakan program pendidikan jasmani dalam bentuk berbagai macam gerak atau aktivitas jasmani harus ingat bahwa ada beberapa tujuan perkembangan yang ingin dicapai bila peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam program pendidikan.

Menurut Aip Syarifuddin (1997) pada prinsipnya pelaksanaan pelajaran pendidikan jasmani mengikuti tiga pola pelajaran sebagai berikut.

  1. 1.    Pembelajaran Pendahuluan (I)

Pembelajaran pendahuluan yang disebut latihan pemanasan  (warming up) bertujuan:

  1. memberikan kesempatan pada siswa untuk melepas ketegangan  seelah tubuh  tidak aktif,
  2. mempersiapkan keadan tubuh siswa dengan meningkatkan fungsi pernapasan dan peredaran darah untuk menghadapi latihan yang sesungguhnya,
  3. meningkatkan suhu tubuh secara optimal sehingga otot berfungsi lebih baik.
  4. 2.    Pembelajaran Inti/Pokok (II)

Pembelajaran inti dilaksanakan setelah latihan pendahuluan. Latihan inti dapat dijadikan dua bagian, yaitu bagian A dan B.

  1. Pembelajaran bagian A bertujuan menpelajari bentuk-bentuk gerakan baru, mengulang dan memperbaiki gerakan yang diajarkan. jadi,pada latihan bagian A siswa mengerjakan bentuk latihan dengan memperhatikan pola gerak dan berusaha menguasai bentuk gerakan.
  2. b.    Pembelajaran bagian B bertujuan mengerjakan bentuk gerakan yang dikenal dan dikuasai. jadi, pada bagian latihan B penekannannya  diletakkan pada: peningkatan kinerja prestasi (lebih cepat, lebih tepat), perbaikan teknik gerakan lebih efektif, rangkaian berbagai bentuk urutan gerak hingga menjadi ketrampilan gerak yang terpadu.Pelaksanaan latihan bagian B dilakukan dalam waktu yang lebih lama dan merupakan puncak aktivitas pelajaran.
  3. 3.    Pembelajaran Penutup

Pembelajaran penutup disebut latihan penenang (cooling down) bertujuan menyiapkan jasmani dan rohani para siswa.

Untuk Lebih lengkapnya, bisa di baca n klik  blogger ini Ilmuhamster.blogspot.com

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: